Cerpen tentang Keadaan Hidup Indonesia

Posted Posted by Penyedia-Layanan in Comments 0 komentar

Cerpen ini seperti menggambar keadaan Indonesia yang terjadi saat ini, memang benar-benar menggambar kondisinya, tidak jauh berbeda memang soal Indonesia. Ini realitas yang diberi rasa sastar dengan sedikit perisa seperti sentilan pada pemerintah dan diri kita sendiri, orang Indonesia. 
Angkanesia


  Saya adalah warga Negara Angkanesia, Negara kami tidak dipimpin oleh seorang Presiden tapi dipimpin oleh seorang manager. Negara kami dikelola dan dijalankan seperti menjalankan sebuah perusahaan internasional, kami sebagai warga Negara adalah sekaligus pemilik saham atas Negara ini. Kami menjunjung tinggi apa yang disebut dengan Angka, bahkan di Negara kami ada hari Angka nasional dimana manager Negara kami berpidato untuk melaporkan perkembangan Negara kami kepada para pemegang saham yaitu kami warga Negara Angkanesia, tapi kami sebagai warga Negara hanya sebagai pemilik saham minoritas atas Negara kami sendiri, dan pemilik saham mayoritas Negara kami adalah Negara adikuasa di planet ini.


  Saya akan bercerita betapa indah dan kayanya Negara Angkanesia ini, sehingga sampai-sampai orang bilang tanah kami adalah tanah syurga, lempar tongkat kayu dan batu jadi tanaman, Angkanesia adalah Negara kepulauan terbesar didunia yang selain mempunyai pulau-pulau nan indah juga sebagai Negara penghasil segala jenis tambang yang diciptakan oleh Tuhan. Mungkin benar Negara kami diciptakan Tuhan dengan menggunakan tanah syurga. Pulau-pulau indah kami menjadi daya tarik raja-raja kelana, sampai-sampai para raja kelana berbisik-bisik dan menulis di blog mereka, kata-kata yang memuja pulau nan indah permai ini.
  Hari Angka nasional tiba, saya dan warga Negara Angkanesia lainnya akan segera mendengar pidato tentang tingkat kemiskinan, tingkat kesejahterahan, nilai ekspor impor, tingkat kesehatan, dan segala tingkat dari seluruh bidang yang merupakan sumber daya Negara kami yang kaya ini dalam bentuk angka-angka dan persentase. Dalam setiap pidatonya manager kami, sangat sempurna melaporkan perkembangan Negara kami sehingga seluruh dunia mengakui bahwa manager Negara kami berhasil memanage Negara kami yang kaya ini tapi memiliki warga yang miskin dan bodoh, mungkin miskin dan bodoh kami adalah bentuk dari keadilan Tuhan atas alam semesta yang dibangunnya berjuta-juta tahun yang lalu ini, kenapa saya bisa mengatakan seperti itu, tentu saja jika kami pintar dan kaya serta diberi kelimpahan sumber daya alam seperti ini, tentulah Negara Angkanesia ini yang menjadi Negara adikuasa.


  Setelah manager kami berpidato dan melaporkan angka-angka kepada seluruh warga Negara Angkanesia, saya menyadari ada yang terlupa untuk dilaporkan manager kepada kami warga Negara Angkanesia. Tapi apa itu saya kurang jelas mengetahuinya, saya cuma merasa ada yang kurang, kami mungkin terlalu bodoh untuk menyadari apa itu yang tidak dilaporkan manager kami dalam bentuk angka-angka. Walaupun kami adalah kumpulan dua ratus jutaan orang miskin dan bodoh, kami masih bisa tersenyum pada dunia bahkan Negara kami berulang-ulang kali menjadi Negara ramah dan murah senyum, entah bagaimana si penobat Negara kami ini yang memutuskan Angkanesia adalah Negara ramah dan murah senyum padahal kami sesama warga Negara Angkanesia saling mencurigai dan saling sikut menyikut untuk mendapatkan posisi-posisi terhormat di Negara ini.
  Menurut saya Negara kami bukanlah Negara yang ramah dan murah senyum tapi adalah Negara kampungan, itu benar warga Negara Angkanesia adalah orang-orang yang kampungan. Kami sering senyum-senyum sendiri jika diajak ngobrol oleh orang asing mungkin itu efek dari kurangnya penghargaan dilingkungan kami sehingga ketika kami diajak ngobrol oleh orang asing kami merasa mendapat penghargaan yang mungkin sangat berarti bagi kami.


  Dua hari setelah hari Angka nasional, manager Negara kami tersadar kalau beliau lupa melaporkan kepada warga dalam pidatonya tentang sesuatu yang sekarang ini menjadi budaya baru bangsa kami. Kemudian beliau menyusun isi pidatonya dan memerintahkan pembantunya untuk menyiapkan hari untuk melaporkan angka-angka yang lupa terlaporkan olehnya. Tiga hari kemudian beliau sudah bersiap-siap untuk membacakan pidatonya, seluruh kegiatan sekolah dan kegiatan perekonomian diliburkan, dan seluruh warga diminta untuk mendengarkan pidato penting ini di TV dan radio. Kemudian berpidatolah beliau sebagai berikut:


  “kepada seluruh warga Negara Angkanesia, saya sebelumnya minta maaf karena selama enam tahun menjadi manager Angkanesia dan berpidato untuk menyampaikan laporan angka-angka kemajuan negara kita ini saya selalu melewatkan yang semestinya saya laporkan setiap tahunnya, mungkin warga sekalian tidak tahu apa itu ataupun tidak menyadari apa itu tapi ini adalah yang terpenting dari Negara kita ini, memang menurut angka-angka yang saya terima setiap tahunnya dari para pembantu saya, Negara kita ini mengalami kemajuan yang pesat dari mulai angka kemiskinan yang terus menurun sampai angka pembayar pajak yang mulai jujur dan sadar yang terus meningkat setiap tahunnya. Tapi semua itu tidak ada gunanya karena yang akan saya laporkan kepada warga Negara sekalian ini angkanya terus merosot tajam, mungkin warga sekalian mulai menebak ataupun bertanya-tanya angka apa itu, untuk tidak memperpanjang durasi saya berpidato saya akan langsung saja. 
  Angka yang merosot tajam sampai ketitik 3,4 persen saja itu adalah angka harga diri dan rasa malu bangsa kita, dari rakyat jelata, mahasiswa, guru, dosen, pemuka agama, pejabat, parlemen dan para pembantu saya dan bahkan saya sendiri sudah tidak terlihat lagi ada harga diri dan rasa malu.”


  Setelah sampai pada kata harga diri dan rasa malu kemudian manager Negara kami ini, meninggal dunia. Dan segeralah dia bertemu dengan Tuhan. Tidak berbasa-basi Tuhan kemudian berkata “saya salut dengan pidatomu, saya tidak menyangka kamu akhirnya mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan bangsamu, tapi sayang kamu menyadarinya diakhir hidupmu.” “jadi bagaiman Tuhan? Apakah setelah pidatoku itu, Negara Angkanesia akan menjadi baik?” Tanya almarhum manager Angkanesia, “kita lihat aja dulu.” Jawab Tuhan. Kemudian Tuhan dan almarhum manager Angkanesia melihat apa yang sedang terjadi dengan bangsa saya ini dari langit.


  Di Negara Angkanesia, saya dan seluruh warga Negara yang tengah diliburkan dihari jumat ini yang mendengar pidato dan melihat apa yang terjadi dengan manager Angkanesia yang wafat ketika berpidato, bersiap-siap untuk pergi berakhir pekan yang panjang ini tanpa perasaan tersinggung atas pidato sang manager dan rasa duka atas wafatnya sang manager. Sementara itu Tuhan dan almarhum manager Angkanesia yang memperhatikan dari langit, tampak terkejut dan tak dapat menggambarkan apa yang tengah terjadi dengan bangsa Angkanesia.

Read More..

Cahaya Putih Jilbab Matahari

Posted Posted by Penyedia-Layanan in Comments 0 komentar

Siang ini matahari menyengat lebih panas dari hari-hari sebelumnya.
Entah kenapa. Padahal, perkiraan cuaca untuk hari ini justru sama sekali tidak cerah.Apakah karena jilbab putih ini yang menyekat ruang-ruang udara di sekitar wilayah wajahku? Padahal, kata orang warna putih seharusnya tidak terlalu baik dalam menyerap panas.


Siang ini panas matahari benar-benar menyusup ke dalam uluh hatiku.
Panas, sangat panas! Lebih-lebih ketika seisi sekolah mendendangkan satu nama, Sulistiya Rahmawati. Ya, akhirnya gadis manis itu merebut juara pertama lomba olah vokal antar kelas.Muak! Aku benar-benar muak dengannya. Memangnya hanya Sulis yang bisa diagung-agungkan oleh seisi sekolah? Aku pun bisa! Asalkan jilbab putih ini tidak mengikat kepalaku, pasti namaku yang bersenandung, Nandiva Safitri.„Diva, lengan tanganmu kelihatan, tuh!


Nggak enak dilihat sama temen-temen sekelas lainnya. Lebih-lebih laki-laki. Kan sayang auratmu,“ Tukas Sri, salah satu rekan sekelasku yang benar-benar militan terhadap apa-apa yang kukerjakan. Semuanya pasti dikomentari! Baju yang tidak terlalu ketat, rambut yang tak boleh segaris pun terlihat, cara berjalan yang harus seadanya, pandangan yang harus senantiasa terjaga…. Tidak ada yang alpa dari pandangan gadis berjilbab „terpanjang“ satu sekolah itu.


„Iya Sri, ini memang disengaja kok. Kalau lengan kemeja panjang ini sedikit dilipat ke atas aku ngerasa lebih bebas untuk menulis.
Lagipula, gadis berjilbab bukan berarti ketinggalan mode dong?!“ belaku.


Sri tersenyum dingin. Dari gayanya memicingkan sedikit mata, aku tahu ia sedikit kurang suka dengan jawabanku.
Daripada terus berdebat dengan Sri, langsung saja kuayunkan langkahku ke kantor guru. Niatku kali ini sudah cukup bulat. Aku harus mendaftarkan diri dalam lomba olah vokal antar Sekolah se-Jakarta Timur. Aku pasti bisa! Meski dengan beban helaian bahan putih di kepalaku, kurasa itu bukan masalah. Toh, banyak juga artis-artis berjilbab yang masih saja ber“lenggok“ di depan layar kaca. Kalau mereka boleh, kenapa aku tidak?


*****


Sial! Meja Pak Teguh sudah dikerumuni banyak siswa. Tidak kukira. Ternyata lomba yang tinggal seminggu itu sangat banyak diminati. Makin banyak saja sainganku. “Ya Tuhan, walau bagaimanapun aku percaya pasti kau jadikan aku yang terbaik. Bukankah aku hambaMu yang taat?”


Setelah 30 menit menunggu, akhirnya tibalah giliranku. Serentak kusebutkan namaku dan asal kelasku. Aku benar-benar bersemangat. Namun, ada yang ganjil di raut wajah Pak Teguh, entah kenapa? Aku merasa sangat terdiskriminasi, mentang-mentang wajahku berselimut jilbab putih? Tidak adil!
Namun demikian, untungnya Pak Teguh tetap menyertakan namaku, walau sebelumnya, ia masih saja meyakinkanku, apakah aku benar-benar ingin ikut? Tentu saja kujawab tegas, „iya!“ Siapa sih yang belum kenal namaku? Diva, 2 tahun berturut-turut aku selalu menjadi juara olah vokal antar kelas? Pak Teguh pun selalu saja membanggakan namaku. Tentu ia sudah tahu benar bagaimana kemampuanku.


Pandanganku kali ini teralih kepada Sulis. Gadis itu juga berjalan menuju meja Pak Teguh. Sial! Pasti gadis itu juga ingin turut ambil bagian. Dari samping pintu pelan-pelan kulihat pembicaraan Sulis dengan Pak Teguh. Pasti Pak Teguh meminta Sulis benar-benar serius dan berlatih. Karena baru tahun ini sekolah kami ambil bagian di lomba bergengsi ini.


Dan aku percaya, Pak Teguh pasti lebih menjagokan Sulis. Selain cantik, ia juga memang berbakat. Sedangkan aku? Walaupun suaraku tidak kalah hebat dengan suaranya, tapi penampilanku pasti kalah menarik dengan Sulis. Ya! Lagi-lagi gara-gara jilbab putih yang senantiasa terikat di kepalaku.


Ah, andai saja 6 bulan yang lalu pesona Muaz tidak membuat hatiku rapuh.
Andai saja aku tahu, walau dengan jilbab putih ini aku masih belum bisa menarik perhatian ketua rohis itu.
Tetap saja. Semua karena jilbab putihku!


*****


Pagi-pagi Sri dan kawan-kawan lainnya sudah berkerumun di depan kelas. Entah ada kejadian apa. Padahal belum ada hasil ulangan yang akan keluar di minggu-minggu ini. Apakah ada yang ulang tahun?
Ternyata sebuah kejutan! Aku terperangah. Siapa kira, ada yang berbeda dengan penampilan Sulis hari ini. Ia berhijab! Aku tersentak. Ada mukjizat apa?


Sri dan kawan-kawan lainnya terus menyalami dan memeluk Sulis. Senandung yang diucapkan pun sama persis seperti yang kudapatkan dulu, ketika aku memakai jilbab untuk pertama kalinya. „Selamat atas hidayah termahal yang telah kamu dapatkan. Semoga kau senantiasa istiqomah di jalanNya. Dengan berhijab berarti kamu sudah belajar menjunjung keanggunan dan kehormatanmu sebagai seorang wanita. Pun, berati kau menjadikan dirimu intan yang benar-benar memancarkan keanggunan. Bukan, bukan kecantikan yang mudah dipamerkan ke semua orang sembarang, tapi justru kecantikan yang teramat mahal, yang dijaga atas dasar keimanan dan ketaatan. “
Kata-kata itu tidak hanya lewat, namun pekat di jaring-jaring otakku.


Tak kalah ambil bagian, langsung kuhampiri dia seraya kuucapkan,
„Selamat ya Sulis. Kau terlihat lebih anggun dengan jilbab putih itu.
Dan aku sependapat denganmu, berjilbab bukan berarti tidak bisa berkreasi dan berseni kan? Kau sudah siap untuk pertandingan besok kan?“


„Tidak, Va. Aku tidak ikut pertandingan itu,“ tukas Sulis datar.


Hatiku mendadak tersentak.


“Kenapa?”


“Sebenarnya, sejak beberapa waktu lalu aku sudah tidak minat aktif di lomba olah vokal di sekolah ini. Setengah hatiku merasa hilang. Benar-benar hilang. Seiring keluarnya kata-kata syahdu yang bergema di kedua bibirku. Sejalan gerak gemulai yang kutebarkan saat tampil. Jauh di lubuk hati, Kadang-kadang kurasa ada yang salah. Tak bisa kujawab itu apa,“


„Lalu, mengapa waktu itu kau juga mendaftarkan diri kepada Pak Teguh?“ tanya heranku.


„Aku sama sekali tidak mendaftarkan diri, Diva. Pak Teguh-lah yang justru tiba-tiba memanggilku. Dia bertanya kenapa kali ini aku tidak ikut serta. Lalu kujelaskan semuanya kepada Beliau. Betapa malas aku ikut acara-acara seperti itu. Lagipula, suara wanita itu aurat kan, Va?”


Aku tersenyum ringan.


Ya Tuhan, entah hadiah apa yang telah kau berikan?
Doaku di malam-malam seminggu ini terkabul. Sulis batal ikut pertandingan!
Ya Tuhan, kusadari betapa sayang dan cintanya Kau kepada hambaMu ini.
Jeling hatiku menari ceria. Semuanya berjalan sempurna. Kesempatanku untuk menang jauh lebih besar, bahkan tak lagi dapat dipungkiri.


*****


Pagi itu ada yang beda di raut wajah Sri. Ia tak lagi menyapaku. Entah kenapa. Padahal hari ini adalah hari perdanaku. Akan kukerahkan segala kemampuanku.
Ah, Sri, biarlah… Semuanya hanya Tuhan yang tahu. Keputusanku untuk sementara melepas jilbab hari ini adalah keputusan yang sulit. Namun aku sudah bertitah, besok akan kukenalkan jilbab putih itu lagi.
Hanya hari ini Tuhan! Pasti kau akan mengerti. Toh, hari esok masih akan ada. Dan tentunya, matahari masih akan bersinar.


Rinai wajahku siang itu memancarkan sinar indah. Sebuah piala bertuliskan Juara Pertama: Lomba Olah Vokal antar SMU Se-Jakarta Timur terjinjing di tanganku.
Teman-temang terus menyebut dan mengagung-agungkan namaku. Melodi di jiwaku benar-benar berirama. Tak kalah merdu juga pujian Pak Teguh yang terus bergeming di telingaku,
„Diva kamu benar-benar hebat! Kamu masih sangat muda dan berbakat. Selain memiliki suara emas, gayamu di panggung tadi benar-benar menakjubkan.
Teruslah berlatih, satu saat nanti kamu akan menjadi orang yang terkenal. Bapak bangga terhadapmu.“


Satu sekolah benar-benar melantunkan namaku.
Aku benar-benar tersanjung.
Ah, Tuhan, lagi-lagi Kau mengerti aku. Walaupun hari ini gerai rambutku tak lagi tertutup, namun kau masih saja memberiku kesempatan.
NikmatMu tiada tara Tuhan!


*****


Siang itu matahari tidak terlalu menampakkan wajahnya. Udara benar-benar sangat sejuk. Sesejuk lantunan pujian-pujian yang terus menari-nari di hatiku.
Teman-teman di satu Mikrolet pun masih memuji dan membanggakanku.
Hari ini adalah hari yang indah!


Siang itu matahari tidak terlalu bersinar, padahal impian dan cita-citaku kian cerah dan merona.
Tiupan udara dari jalan Mikrolet yang cukup kencang membelai setiap helaian rambutku yang bergerak bebas siang itu.


Lambaian angin melenakanku. Aku terlelap.


Sinar terang sekejap membuka kegelapan yang membongkah di pekat kedua mataku.
Pandanganku langsung tertuju kepada wajah yang kukenal itu, Sri.
„Sri, maafkan aku. Demi Allah! Aku menyesal. Tidak lagi-lagi akan terulang! Aku takut Sri, benar-benar takut…“


Sesosok menyeramkan itu datang! Besar! Aku terus berteriak kencang...
Ampunilah aku Allah!  Ampuunn..Ampuun..Ampuunn..!
Teriak sesalku tak pelak didengar. Sosok itu masih saja menggeretku.
Badanku benar-benar terseret, ia terus menarikku. Tidak dengan tanganku Sri, Ia menyeret tubuhku dengan tarikan keras di rambutku. Setiap utas rambutku berteriak kesakitan. Ubun-ubun kepalaku benar-benar panas, mendidihkan serat-serat kulit kepalaku. Pedih. Sakit yang tak pernah terasakan. Tak tahan akan semua itu …“


“Sri, aku akan berubah…! Tak sanggup kuulang lagi memori mimpi ini. Tidak! Kau mau memaafkan aku ,kan? Kau akan terus menjadi sahabat yang terus mengingatkan aku kan Sri?...“ pohonku seraya terus mendekati Sri.


„Lihat Sri! Lihat! Kali ini wajahku telah terbalut dengan jilbab putih lagi. Bahkan lebih panjang Sri! Aku ingin tubuhku benar-benar tertutup rapat!“


Wajahnya terus memandangku. Belum sepatah kata pun yang keluar dari wajahnya. Hanya air mata di kedua pipinya yang kali ini mengalir deras.
Ia terlihat membatin. Wajahnya yang pucat terus memandangku.
Satu kalimat terakhir yang masih ia alunkan,
Allaahummaghfirlaha warhamha wa´aafihi wa` fu anha…

Read More..

Selamat Datang

Posted Posted by Penyedia-Layanan in Comments 0 komentar

Selamat Datang di Blog Penyedia Layanan Read More..